Aleeka · Amma · Belajar lagi · feeling me softly

Ammi bantu ya, Nak..

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Buibuk, ada yang anaknya sedang dalam fase belajar kemandirian? Ciri-cirinya, apa-apa bilangnya, “aku aja!” “aku bisa!”. Hemm.. biasanya apa yang buibuk lakukan? Ga percaya? Ga sabaran sama prosesnya? Geregetannnn pengennya emaknya aja yang ngerjain?

Buibuk tidak sendiri, I’ve been there, done that. Di saat kita sok sibuk, dan waktu seakan memburu, dan disitulah anak kita sedang coba memakai dan mengancingkan bajunya sendiri, ditunggu.. ditunggu.. sepertinya waktu lamaaa berlalu. Ahh.. sudahlah nak, sini kupakaikan saja baju dan kancingnyah!!

Mungkin sebagian anak, akhirnya membolehkan emaknya turun tangan, tapi buat Aleeka, waaaawwww.. jiwanya yang kompetitif seakan ga mau dibantu, musti bisa sendiri! Kalau ga bisa, dia akan geregetan sendiri dan ujung-ujungnya kesel, nangis deh. Apakah akhirnya mau dibantu? Oh, tentu tidakkkk!! *kalo begini emaknya yang melipir di pojokan sambil elus-elus perut.

Awal-awal bermula saat saya memang ingin mengajarkan kemandirian ke Aleeka, yaitu memulai untuk memberikan pilihan saat mau pakai baju, terserah dia mau pakai baju yang mana, yang A atau yang B? Sejak saat itu, semakin diberikan kepercayaan untuk melakukan hal sendiri, makan sendiri, mandi sendiri, gosok gigi sendiri, biar kata berantakan, atau hasilnya ga sesuai ego emaknya, biarkan sajaahhh.

Nah, semakin kemandiriannya menjadi-jadi, semakin kalo apa-apa ga mau dibantuin, bilangnya “aku ajahhh!”, kalo dibantu dia bisa ngambeggghh, pake qolqolah sughro itu buibuk. Hingga akhirnya negara api menyerang.. eh, hingga akhirnya kami punya trik jitu untuk membuat dia menyerah tanpa drama kalo memang mentok, dan butuh bantuan orang dewasa.

Kami akan bilang, “Ammi/Appi/Nenek bantu ya, nak?”. Itu setelah kami bilang, “Hayo nak dicoba dulu, pasti bisaaa!!!”, setelah berjam-jam yang panjang dan melelahkan kemudian, baru kami bilang, “Kalau susah, nanti Ammi/Appi/Nenek bantu ya?”. Memang kondisi ‘kami bantu’ ini pun butuh proses, karena dia maunya dia yang lakukan, dan kami tidak memaksa untuk hal ini. Kalau sekarang, bisa kami bilang di awal atau setelah dia coba lakukan sendiri.

Rizqie Ifdhola Yusario-01

Saat mentok, awal-awal kami bilang bahwa, Aleeka sekarang kan masih kecil, jadi tidak semua hal bisa sendiri, tidak apa-apa belum bisa dan butuh bantuan orang dewasa (kata-katanya dirangkai sendiri ya buibuk, jangan begitu ngomongnya, ntar dia malah kaget, emakku ko seperti pujangga!). Itu diulang-ulang terus seperti mantra, supaya dia merasa bahwa tidak bisa itu tidak apa-apa, dan minta tolong itu juga sah-sah aja.

Dan yang paling penting lainnya, bersamai kegiatannya, maksudnya klo dia minta gendong karena mau liat kasir Indomar*t itung belanjaan, ya digendong. Kalo dia mau coba ambil roti sendiri di etalase yang tidak terjangkau, yaa digendong, pegang tangannya dan capit roti bersama. Mau cuci tangan di wastafel, gendong saja dia, minta dia yang buka keran, ambil sabun dan bilas tangannya sendiri sampai bersih. Tugas kita? ngecek hasil cuci tangannya beneran bersih. Jangan mentang-mentang kita bantu, eh kita ga ajak dia untuk prosesnya, ya sama aja boong yah.

Ingat buibuk, hal ini ga bisa instan, musti diulang-ulang, tergantung anaknya, apalagi kalo jiwa kompetisinya tingkat tinggi, sabarrrrr adalah jalan terbaik *angguk-angguk.

Insya Allah buk! Tokcer!

Oh, dan jangan lupa, bilang terima kasih setelahnya, karena sudah selesaikan tugas sendiri dan mau minta bantuan, dengan senyum yaaaa.. *wink.

Silakan dicoba resep simpel nan mempesona ini ya buk. Semoga berhasil.

-Ammi

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s