Amma · Appa · Belajar lagi

Game Level 1, #day2

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Sepertinya kalo saya berani jujur, komunikasi yang tidak produktif justru terjadi antara saya dan Appi, daripada dengan Aleeka. Bahkan mungkin, saya juga jadi bercermin, komunikasi yang saya lakukan dengan orang-orang di sekitar saya, apakah memang sudah cukup produktif? Dengan game ini, membuat saya belajar untuk menilai gaya komunikasi yang saya lakukan selama ini. Dan sepertinya, hari ini Allah mengatur saya untuk mencoba memperbaiki komunikasi dengan Appi.

Jadi, untuk post #day2 saya coba utarakan usaha komunikasi produktif yang saya lakukan dengan Appi, bukan dengan Aleeka. Disisi lain memang karena saat saya berangkat kerja pagi ini, Aleeka masih asik di ruang mimpi, yang biasanya dia sudah bangun, minta mandi, dan bersiap untuk main.

Di rumah pagi ini, Appi bilang bahwa dia sudah daftar untuk ikutan touring Jawa – Bali saat lebaran nanti, kurang lebih akan touring selama 7 hari. Saya, yang tidak terlalu menanggapi hal ini hanya berkata, “terserah Appi aja deh”. Jawaban yang saya berikan ketika saya tidak mau berargumen dan menilai bahwa apapun argumen yang saya berikan, pasti tidak akan diterima, biasanya dia akan sedikit memaksa apabila dijawab tidak sesuai dengan keinginannya.

FYI, Appi sendiri sudah pernah utarakan hal ini sebelumnya, dan pernah juga saya jawab. Tapi sepertinya komunikasi saat itu tidak diterima dengan baik, karena seingat saya dilakukan saat bersiap ke kantor, yang menurut saya timingnya kurang tepat, sehingga mungkin tidak dapat diingat dengan baik, sehingga Appi bilang bahwa saya tidak menjawab pertanyaan yang diajukan sebelumnya. Saat itu saya menjawab, tanpa melakukan eye contact, karena sambil bersiap di depan kaca, bahwa saat lebaran adalah saatnya bersama keluarga, dan kurang setuju kalau dia pergi di saat hari raya.

Saya pikir sebelumnya, Appi hanya bercanda saat berkata dia ingin touring ke Bali saat hari raya, dengan alasan hanya di liburan itulah libur terpanjang yang dimiliki. Saya masih berpikir bercanda, karena ga mungkin lah punya pemikiran untuk pergi di saat waktunya keluarga bertemu dan bersilaturahim. Dan saya pun menanggapinya dengan bercanda juga, karena Appi sering banget bilang mau touring yang akhirnya batal dilakukan. Sepertinya di moment ini saya telah gagal untuk melakukan komunikasi produktif, yang berbuntut pada hari ini.

IMG-20161120-WA0007-01

Seiring dengan ketidak mampuan saya menjawab, Appi menyimpulkan bahwa saya secara tidak langsung, menyetujui rencananya untuk pergi. Pagi ini, saya berpikir cukup dalam apa yang ingin saya ucapkan ke Appi mengenai rencananya. Saya, tipe yang kalau ada masalah atau kondisi tertentu, suka sekali membuat percakapan di dalam pikiran saya sendiri. Mulai dengan kalimat sinis, kalimat jujur, kalimat apapun yang mungkin bisa saya keluarkan.

Tapi skenario dalam pikiran, ternyata hanya ilusi saja. Saya hanya bisa bertanya, “benar Appi sudah daftar?” saya tanya ini saat di perjalanan menuju kantor, yang menurut saya cukup kondusif mengingat waktu dan jarak yang cukup jauh. Dan dijawab iya, betul sudah daftar. Dibilang kecewa, betul saya kecewa, tapi saya ingat pada materi komunikasi produktif kemarin, apabila lawan bicara tidak menangkap apa yang kita maksudkan, berarti gaya komunikasi kita yang salah, bukan orang tersebut. Itu makanya, saya tidak lantas marah-marah, saya hanya bisa sabar. Saya utarakan apa yang ada di dalam pikiran saya, dengan intonasi yang masih terjaga. Dalam proses ini saya mencoba mengingat materi yang diberikan kemarin.

Dan di akhir, saya hanya bilang bahwa, silaturahim nanti bisa dilakukan sebelum Appi pergi, terutama ke orang tuanya. Dan harus diinformasikan ke ortunya alasan kenapa Appi tidak bisa hadir saat hari raya. Which I told myself, for the sake of my heart and my sanity, silaturahim bisa dilakukan kapan saja tidak mesti saat hari raya.

Praktek komunikasi produktif sudah coba saya lakukan dengan Appi pagi ini, walau memang tidak dapat mengubah keputusannya untuk tetap touring, tapi paling tidak saya tidak merasa sakit hati, karena sudah mengutarakan apa yang saya rasakan, yaitu ketidak setujuan. Dengan pemikiran bahwa ada andil saya pada saat Appi memutuskan hal ini, andil dalam komunikasi tidak produktif yang kami lakukan sebelumnya. Rasanya sangat menjadi pembelajaran terhadap komunikasi yang selama ini kami lakukan, dan yang akan kami lakukan. Paling tidak, perubahan dimulai dari diri sendiri dulu.

Well, this game really changed my point of view in communication. Menjadi jujur pada diri sendiri, rasanya itu yang diperlukan untuk bisa meneruskan game ini sampai selesai.

-Ammi

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s