Amma · Belajar lagi · feeling me softly

Bicara Rejeki

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Pada saat saya belajar di Matrikulasi IIP sesi 7, saya diperkenalkan dengan quote:

Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari

Pemikiran saya tentang quote ini, saya coba tuliskan dalam post disini. Betapa saya yang punya pemikiran sempit tentang konsep rejeki, tidak semerta langsung meng-iyakan yang dibilang Bu Septi, saya malah terlalu banyak berpikir dengan logika. Padahal rejeki itu kan tidak pernah bisa diukur dengan logika ya.. mirip-mirip cinta lah, yang kadang tak ada logika. Kalo rejeki kan, hak prerogatifnya Allah? Dan Allah telah menjamin tiap-tiap makhluk di bumi-Nya dengan rejekinya masing-masing

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya:

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (11: 6)

O..o, ternyata saya terlupa, Bang Saptuari pernah jabarkan tentang Konsep Rejeki ini di bukunya Kembali ke Titik Nol. Bang Saptuari bilang

Dikejar malah lari, udah pasrah malah datang sendiri

Sebenarnya ketemu dengan buku ini karena waktu tahun lalu ingin sekali belajar tentang riba, jebakan betmen di dalamnya, bagaimana kunci keluarnya. Yang ternyata, gampang.. yang susah itu ngejalaninnya. Serius! Coba aja baca bukunya Bang Saptu, beliau sudah telurkan 3 buah buku, sepertinya rencana akan ada 4 buku berseri d.

saptu
penampakan buku-bukunya 🙂

Jangan lupa beli, baca, kalo ga, pinjem.. asal balikin ya.. aseli bikin termehek-mehek, tertohok dengan hal-hal yang kita anggap sepele. Saya, yang pernah menganggapnya sepele, dan saat ini mencoba sangat untuk berubah, bertahap.. insya Allah.

Dalam konsep rejekinya Bang Saptu, di bab pertama saja sudah disuru ngaca, di level mana rejeki kita? Ada 4 level rejeki:

  1. Rejeki yang dijamin
  2. Rejeki yang diusahakan
  3. Rejeki yang digantung
  4. Rejeki yang dijanjikan!

Untuk level 1, rejeki yang dijamin, sesuai dengan firman Allah dalam QS Hud : 6 di atas, bahwa Allah sudah menjamin rejeki makhluk-Nya, tidak terkecuali. Artinya, sudah otomatis Allah akan berikan kesehatan, makan, minum untuk seluruh makhluk hidup di dunia ini. Ini rejeki yang paling dasar. Allah masih kasih tuh kita bernapas dan organ kita berfungsi tanpa kita sadari.

Contoh real: pas lagi lapar, e ada yang ngirim makanan, ada yang traktir, pas belum makan malam dari kantor, pas pulang ke rumah lapar, mama ga masak, eeee.. di atas meja makan ada kotak isi nasi + ayam bakar dikirim dari yang hajatan. Haseeekkk… bukan kebetulan tuh, Allah udah ngatur.

Level 2, firman Allah dalam QS An-Najm : 39,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya

Rejeki di level ini didapat dengan ikhtiar normal, misal jadi karyawan dengan gaji bulanan 3jt tiap bulan, tidak ikhtiar di jalan lain ya tiap bulan rata-rata rejekinya segitu saja. Contoh realnya, mau beli mobil harga 300jt cash, harus nabung 100 bulan lamanya, atau selama 8.5th, dengan asumsi dia tidak makan, cari hiburan, ganti HP baru, duitnya 3jt utuh disimpen tiap bulan. Makannya dari mana? balik ke level 1, nunggu traktiran atau kiriman tahlilan. Kan, Allah udah jamin, hehehe..

Masuk level 3, rejeki yang digantung.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim : 7)

Disini Allah menantang kita, mau bersyukur atau tidak? Kalau bersyukur dengan rejeki saat ini, Allah akan tambah rejekinya. Tidak pernah berburuk sangka pada Allah. Contoh real: Gaji 3jt, disyukuri, dinikmati, digunakan untuk menafkahkan keluarganya, zakat dikeluarkan, sebagian digunakan untuk usaha walau kecil-kecilan di jalan halal. Dan Allah kasih rejeki di jalan itu, dapat untung, dipakai buat beli beras, dibagi-bagi ke tetangga, eh.. besok dapat pesanan lagi.

Nah, level 4, rejeki yang dijanjikan, level teratas, pamungkasssss, levelnya sudah TAQWA. Yaitu melakukan semua perintah Allah, dan menjauhi semua larangan-Nya dan yakin 1.000.000.000% Allah akan memberinya rejeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS Ath-Thalaq : 2-3)

Contoh real: punya usaha sendiri, sebulan untung 10jt, 20%nya dia sedekahkan, ke panti asuhan atau duafa yang membutuhkan, besoknya dia dapat rejeki nomplok 10x lipatnya, atau senilai 20jt.

*Jadi inget UYM yah, beliau menganjurkan banget kita sedekah jor-joran, rahasianya ada di ayat di atas ternyata. Saya baru baca beberapa buku UYM, dan hampir semua yang saya baca kuncinya di atas, tujuannya ke level 4 ini.

Gambar terkait

Nah, sekarang kita nih yang kudu ambil kaca, ada dimana level rejeki kita sekarang? Dimanaaa?? dimanaa?? ngacanya pake kaca yang bersih, yang kinclong, biar bener-bener keliatan upil, tahi lalat, atau kerutan2 ketuaannya. Saya sendiri juga harus ambil kaca nih..

Disambung dengan quotenya Bu Septi, sepertinya yang dimaksud : Menjadi produktif itu adalah bagian dari ibadah, sedangkan rejeki itu urusan-Nya. Mungkin inilah tahapan level rejeki teratas yang diarahkan oleh Bu Septi, yang penting kelar dulu ibadah kita, pengabdian kita terhadap suami, anak, keluarga dan lingkungan, pasti.. pasti.. rejeki will follow..

Ahhh.. terjawab sudah, kemelut di dalam dada. Jadi, what next? haduh.. ditanya begini, saya akan coba jawab.. saya coba belajar, memahami, mengerti, dan coba menjalankannya perlahan. Semoga Allah menghitung usaha saya, sebagai bagian dari ibadah. Aamiin…

-Ammi

Sumber bacaan:

  • Sugiharto, Saptuari. 2016. Kembali ke Titik Nol. Sukabumi, Jawa Barat : Delta Saputra.
Advertisements

2 thoughts on “Bicara Rejeki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s