Amma · Belajar lagi · Uncategorized

Rejeki itu Pasti, Kemuliaan harus Dicari (pembahasan Materi Matrikulasi IIP #7)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Salah satu quote bagus saya dapatkan saat materi Matrikulasi IIP sesi #7, yang ternyata merupakan salah satu prinsip hidup yang dimiliki oleh Keluarga Ibu Septi & Pak Dodik sampai hari ini. Walaupun secara pribadi saya masih merasa ‘kebingungan’ untuk mencari arti ‘kemuliaan’ pada prinsip hidup tersebut. Disertai dengan pertanyaan yang membuat saya harus berfikir dan bertanya pada diri sendiri,

Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga?

indikator

Menjadi bunda produktif, dalam proses belajar di Matrikulasi IIP ini, berarti bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR”. Selama ini saya berfikir bahwa menjadi bunda produktif, adalah seorang ibu atau istri yang terutama menjalani kesibukan bekerja di ranah publik, tetapi juga berjibaku dengan kesibukan di ranah domestik. Ternyata, konsep saya salah selama ini.

Menjadi bunda produktif, memaknai aktivitas yang dilakukan adalah dalam rangka ikhtiar menjemput rejeki. Mungkin kita tidak tahu dimana rejeki kita, tapi rejeki akan tahu dimana kita berada. Suatu konsep yang saya masih belajar untuk memaknainya. Karena sejak saya kecil sampai sekarang, pun mungkin yang dimaknai Appi, bahwa rejeki akan datang kalau kita bekerja, konsep bekerja berarti bekerja di kantoran, kata menjadi entrepreneur secara profesional belum terlalu berani kami jajaki.

Lalu saya dapatkan artikel “Berkarya & Menjaga Amanah” yang ditulis di http://www.padepokanmargosari.com, di dalamnya Ibu Septi memberikan perbedaan antara Gaji & Rejeki.

rejeki

Gaji itu SEBAGIAN KECIL dari Rejeki

Tapi pertanyaannya, apakah salah apabila seorang bunda juga ikut bekerja dalam rangka pemenuhan ekonomi keluarga (biasanya), atau dalam rangka mengaplikasikan potensi diri dalam ranah publik?

Kembali saya diingatkan pada materi #7, bahwa bunda produktif dalam value di Ibu Profesional adalah bunda yang akan berikhtiar menjemput rejeki, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga. Menjadi bunda produktif, tidak bisa dimaknai sebagai mentawakkalkan rejeki pada pekerjaan kita. Sangat keliru kalau kita sebagai Ibu sampai berpikiran bahwa rejeki yang hadir di rumah ini karena pekerjaan kita. Menjadi produktif itu adalah bagian dari ibadah, sedangkan rejeki itu urusan-Nya.

Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita. Maka, bunda produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi Ibu yang bermanfaat bagi banyak orang.

Maka segala yang bunda kerjakan di Bunda Produktif ini adalah sebuah ikhtiar, yang wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh (Profesional). Yang saya pahami, itu berarti di semua ranah, baik publik maupun domestik. Dan Bu Septi, pada sesi tanya jawab 30 menit lebih dekat dengan Bunda Septi, jawab mengenai pertanyaan saya:


Q4 – Ayu

Apakah hal-hal yang kami pelajari disini, bisa dilakukan maksimal oleh ibu bekerja bu? Terutama yang ibu lakukan untuk anak-anak yang kemarin sempat disinggung oleh ibu-ibu fasils, yaitu ‘nyantrik’ bisa kami lakukan juga sebagai ibu bekerja? Atau ada cara lain bu? Dan bagaimana koordinasinya?

A4:

Mbak ayu yang sedang mlipir ke tukang soto 😬. Pasti bisa mbak. Kan kepercayaan mendidik anak itu SK nya tidak hanya turun ke ibu yang bekerja di ranah domestik. Buktinya kita diberi rahim, dan rahim kita dititipkan janin. Artinya apapun kondisi kita saat ini, pasti sudah disiapkan Allah untuk mendampingi anak-anak kita. Caranya berkomunitaslah dengan baik, sehingga muncul yang namanya Community Based Education dari situ kita akan makin merasakan anak-anak memiliki banyak orangtua, dan bisa jadi tempat untuk saling belajar, termasuk nyantrik.
Perkuat ketrampilan hidup anak sampai usianya 12 tahun, setelah itu anak akan bisa menentukan arah hidupnya sendiri

(postingan lengkap tentang sesi ini, bisa dilihat pada blognya Mba Eka, disini)


Mengapa saya sangat tertarik untuk membahas materi sesi #7 ini? Jawabannya karena saya ingin mendapatkan pengertian yang sesungguhnya dari menjadi bunda produktif. Mulai dari awal Matrikulasi, saya sangat menantikan materi ini. Melihat bahwa saya pribadi menilai diri saya, dulu, adalah salah satu bunda produktif karena sibuk di ranah publik. Tidak menyangka, makna sesungguhnya jauh lebih ‘bermakna’ daripada sekedar sibuk di ranah publik saja.

Materi ditutup dengan beberapa point penting, bahwa rejeki itu datangnya dari arah tak terduga, untuk seorang ibu yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa. Rejeki hanya akan menempuh jalan yang halal, maka para Bunda Produktif perlu menjaga sikap saat menjemputnya. Ketika sudah mendapatkannya, jawab pertanyaan berikutnya “Buat Apa?”. Karena apa yang kita berikan ke anak-anak dan keluarga, halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab.

Setiap materi Matrikulasi IIP, memang selalu ditutup dengan poin-poin yang membuat kita harus mengunyah pelan-pelan dan berkaca pada diri sendiri, untuk mendapatkan jawabannya.

Materi menjadi bunda produktif akan bersambung pada sesi #8, yang insya Allah saya akan coba tuliskan berdasarkan pemahaman saya. Semoga Allah memberikan hikmahnya pada setiap pelajaran yang saya petik dalam program Matrikulasi ini. Aamiin..

Sumber referensi:

-Ammi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s