feeling me softly

Bekerja dari rumah?

Apa bisa yah, bekerja dari rumah? Salah satu keinginan nantinya, klo sudah punya momongan: bekerja dari rumah, dan jadi full time mother. Kayaknya seru tuh yah! bisa tetap dapetin pemasukan, tetapi masih juga bisa mengasuh sendiri anak-anak, ga perlu hire baby sitter, bisa ada di setiap perkembangan anak, ga perlu merasa keilangan waktu bareng dengan anak-anak. Ahh.. indah dunia, buat aku (*pada saat post ini ditulis, yang kepikirannya itu sih ๐Ÿ˜€ ). Mungkin ga kalo ditanyakan ke banyak wanita di Indonesia, eh.. mungkin juga dunia, kerjaan yang paling mengasikan saat udah jadi ibu, jawabannya bakal: full time mother! Bener ga ya?

Hmm.. mari menelaah diri sendiri. Bekerja dari rumah alias mendapatkan pemasukan dari bekerja di rumah, dan full time mother itu sebenarnya satu kesatuan ga yah? Ato apakah dua hal itu, dua hal yang berbeda?

Bekerja dari rumah, pada dasarnya tidak menghilangkan kontribusi kita sebagai istri yang juga sekaligus penambah pemasukan bagi keluarga. Idealnya, walaupun jadi istri di rumah yang tidak kerja kantoran, tetapi kalo ada embel-embel kerja dari rumah, harusnya pemasukan rumah tangga itu ga terputus yah? Mungkin, hanya berkurang? Idealnya, selain kesibukan jadi Ibu yang tugas utamanya adalah mengurus suami, anak-anak, memasak, bebersih rumah, dll, juga membantu suami melakukan suatu kegiatan yang bisa berkontribusi terhadap pemasukan rumah tangga. Betul ga? Jadi, sebenernya hanya tempat bekerja saja yang berubah.

BusySuperMom

Menjadi full time mother! Kami, aku dan Appa, yang saat ini dua-duanya bekerja, tentunya sadar pada saat aku memutuskan untuk menjadi full time mother dan tidak bekerja di kantoran lagi, salah satu pemasukan yang diandalkan untuk rumah tangga pastinya hanya dari Appa aja yah. Karena konteksnya hanya full time mother, thok! Apa itu pilihan yang salah? Pertanyaannya, pada saat seorang wanita berkomitmen untuk mendidik anaknya mulai dari kecil sampai anak itu dewasa, menjadi orang yang sholeh/sholehah, jujur, bertanggung jawab, berguna bagi keluarga, agama dan bangsanya, apakah itu suatu kesalahan? Pastinya ga! Itu tugas Ibu yang paling mulia, pahalanya ga terputus, karena ada anak sholeh/sholehah yang terus mendoakan orang tuanya.

Aku, sebagai wanita kepengen seperti itu juga. Menyadari betapa peran menjadi orang tua, tidak hanya sekedar mengandung, melahirkan, memberikan ASI eksklusif sampai 2 tahun, dan memberikan pendidikan yang terbaik saja. Tetapi berada dekat dengan anak, menjadi sahabat, mentor, guru, sehingga terbentuk pribadi yang baik dari seorang anak, itu yang paling penting. Totalitas untuk menjadi seorang Ibu, itu yang kepengen banget diraih. Tetapi di satu sisi, ada kebutuhan finansial rumah tangga yang tidak bisa juga diabaikan. Bagaimana bisa memberikan pendidikan terbaik, setinggi-tingginya apabila tidak didukung oleh keadaan finansial keluarga yang juga baik. Nah, kalo salah satu tidak bekerja, apa yang bisa dilakukan?

Memilih bekerja di rumah, akan timbul pertanyaan, kerjaan apa yang bisa dilakukan di rumah? Keahlian apa yang bisa dilakukan secara maksimal sehingga bisa dijadikan pemasukan hanya dengan bekerja dari rumah? Kalo pertanyaan ini, coba becermin ke diri sendiri: apa keahlian yang sudah kita, sebagai wanita, miliki, sehingga kita bisa maksimalkan, dan dengan keahlian itu kita bisa jual untuk mendapatkan tambahan pendapatan? Sudahkah kita bersiap diri untuk terus meningkatkan skill/keahlian, sehingga apabila saatnya tiba, kita bisa maksimalkan skill itu? Memasak? Menjahit? Punya MLM produk kosmetik/kesehatan? Kalo mau digali, banyak sebenarnya.

Super Mom

Ah, pe er juga buat aku. Sampai saat ini, aku sendiri masih belum punya target kapan akhirnya bisa melepaskan kerjaan kantoran yang saat ini dijalani, dan berani untuk memutuskan untuk menjadi full time mother, dan bekerja dari rumah. Kecintaan pada pekerjaan yang menumpuk, kesibukan, kecintaan pada suasana kantor, kecintaan pada hecticnya jadwal kerja, belum berani untuk dilepaskan. Apalagi, belum ada anak yang menuntut perhatian lebih (*apa jangan2 karena terlalu cinta kerjaan, jadinya ketunda dikasi anaknya? eh, jangan ya, ya Allah.. saat ini dikasi pun insya Allah siap! ๐Ÿ™‚ ) Apa mau menunggu sampai pensiun, baru bisa menjadi full time mother? Jadi, apa yang bisa aku lakukan saat ini, anggaplah sebagai persiapan?

  1. Perbanyak skill yang memungkinkan kita bisa bekerja dari rumah, belajar masak? bikin kue? ngeblog/bikin online shop?
  2. Melakukan persiapan finansial, sehingga waktunya tiba, tidak banyak yang berubah dari gaya hidup rumah tangga kita
  3. Berani mencoba, memulai suatu usaha yang semoga bisa menjadi besar saatnya nanti
  4. Berdoa, selalu mencari petunjuk dari Allah, yang telah menuliskan garis hidup kita sejak awal kita diciptakan

Jadi, teman temin para Ibu, calon Ibu, calon istri.. apakah ini layak untuk dipertimbangkan? ๐Ÿ™‚

-Amma-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s